Langkah ke 8 Sapto Satrio Mulyo Teras Kabupaten Bogor


Bersama Membangun Kabupaten Bogor

Berbasis Kearifan Lokal

#PolitikTanpaMahar

Festival Rakyat Bogor Ber 1

Klapanunggal (KabupatenBogor) - Festival yang akan diselenggarakan pada Sabtu tanggal 16 Maret 2019, bertempat di Basket Hall - GOR Padjajaran Bogor, dibuka mulai jam 07.00

Bertema dan bertujuan untuk Menguatkan Nilai Kebangsaan. Dengan diawali "Press Conference" 

Selanjutnya akan diikuti dengan acara" antara lain:
- Ikrar Mahasiswa dan Kaum Milenial Bogor Raya
- Ikrar Santri Bogor Raya
- Ikrar Alumni SMA SABOGOR KAHIJI
- Bogor Marching Band 'Tegar Beriman'
- Pagelaran Musik (modern, tradisional)

Channel Socmed
#kami1PBogorayabersatu

Contact Person:
Indriani : 0815 9718 501
Hotniar : 0812 9617 275
Rini P : 0821 1008 8101
Chandra : 0813 1106 8741

Kami segenap staff dan anggota Teras Kabupaten Bogor dan #Bogor, mendukung terselenggaranya acara tersebut (Sapto Satrio Mulyo & Agus Pranoto)



Jangan Gunakan "Politik Botol"

Agus Pranoto
Bogor (KabupatenBogor- Pemilu serentak tinggal menghitung hari. Hiruk pikuk pernyataan elit politik, semakin panas dan liar yang berimbas pada kegaduhan di ruang publik. Atas nama "kebebasan menyatakan pendapat", dengan mudah semua orang, berbicara. Sekalipun tanpa data dan fakta.

Elit politik, sejatinya orang yang terdidik. Mereka berpolitik, tidak lain bertujuan untuk meraih kekuasaan. Esensinya, kekuasaan dipergunakan sebagai alat, antara lain untuk mewujudkan kesejahteraan dan mencerdaskan masyarakat.

Apabila "esensi kekuasaan" ini yang menjadi landasan para elit politik, maka dalam hati dan pikiriannya, hanya tertanam  "kekuasaan hanya alat untuk mengabdi".

Implikasinya, para elit politik, akan menerapkan "politik yang berkeadaban" bukan "politik botol"

Politik yang berkeadaban, adalah perilaku dalam berpolitik yang mengedepankan pada gagasan untuk Indonesia lebih baik. Perilaku elit politik berlandaskan pada nilai-nilai agama dan budaya bangsa.

Mereka akan menerapkan "politik tanpa mahar", "politik tanpa uang", "pernyataan yang berbasis data dan fakta, bukan hoax", dan "tidak menjadikan isu sara sebagai alat untuk memperoleh dukungan masyarakat"

Politik Botol, adalah perilaku dalam berpolitik yang menerapkan "segala cara" untuk meraih kekuasaan. Kekuasaan dijadikan "alat untuk berkuasa". Bukan dijadikan alat untuk Indonesia lebih baik.

Para elit politik model ini, seringkali menerapkan budaya "politik mahar", "politik uang", "pernyataan yang kontroversial, hoax, dan segala hal di politisasi". Pernyataannya mengaduk-aduk emosi publik. Akibatnya, diruang publik terjadi "kegaduhan" yang berpotensi memecah belah anak bangsa.

Pernyataan yang dilontarkan diruang publik, adalah pernyataan yang "bodoh dan tolol (botol). Namun, dikemas dengan narasi yang berisi "pembenaran". Mereka, bermain dengan "kata-kata" dan menyampingkan "kata hati". Perilaku "politik botol" ini, jelas sangat tidak mendidik.

Untuk menjadikan Indonesia lebih baik, hendaknya para elit politik menggunakan "Politik Berkeadaban". Jangan gunakan "Politik Botol". (EW)

Pemerhati Sosial Politik

Wakil Presiden Jusuf Kalla hari ini Menyatakan Mendukung Jokowi Amin

Jusuf Kalla saat Pidato Dukung Jokowi
Jakarta (KabupatenBogor) - Wakil Presiden Jusuf Kalla hari ini berdiri di panggung berlatar foto kampanye yang besar bergambar dirinya, Jokowi dan Ma’ruf Amin, di Hotel J Luwansa, Kuningan, Jakarta. Baliho merah bertuliskan “Saya Pilih Jokowi-M’ruf” dengan foto Jusuf Kalla terpampang besar di pinggir jalan menuju hotel itu. 

Inilah acara penegasan Jenggala Centre dan Jaringan Nusantara yang berisi keluarga besar tokoh asal Sulawesi Selatan di berbagai pelosok Indonesia, mendukung Jokowi-M’ruf Amin di Pilpres 2019.

Mengapa mendukung Jokowi? Pemikiran Jusuf Kalla sederhana saja: “Negara ini bisa mundur karena dua hal: gaya otoriter pemimpin, dan jika keluarga, anak-anak pemimpin, menguasai bisnis negara.”

Dua hal itu, kata JK, tidak ada dalam diri Jokowi. 

Jokowi memimpin negara dengan egaliter, penuh kebersamaan, dan selalu mau mendengar banyak pihak sebelum mengambil keputusan. “Karena itulah, Pak Jokowi terlalu sering rapat. Kami bisa rapat 200 kali dalam setahun,” kata JK. 

Kedua, JK tahu persis, Jokowi bersih. “Anak-anaknya semua orang tahu, tidak berbisnis dengan negara. Ada yang menjual martabak, ada yang dagang pisang goreng.”

Sebagai orang yang paling sering bersama Jokowi, JK menjadi saksi bahwa Jokowi sendiri tidak pernah punya kepentingan pribadi dengan bisnis negara. “Selama Empat Tahun bersama dengan Presiden Jokowi, belum pernah sekali pun saya bicara  proyek dengan Jokowi, baik untuk kepentingan Jokowi, maupun untuk kepentingan saya,” katanya.

Dengan segenap kesaksian dan pemahaman itu, Jusuf Kalla tegas mendukung Jokowi-Ma’ruf Amin. 

Saya juga!

Sumber : Sate Jawa (Salin Tempel dari Jaringan WA)
Foto : Istimewwa

Para Alumni Fakuktas Kehutanan IPB Gelar Rapat Kerja

Alumni Fak Kehutanan IPB ingin sumbang pemikiran dan tenaga
Bogor (KabupatenBogor) - Sebagai tindak lanjut pengukuhan Dewan Pimpinan Pusat HA-EIPB/Himpunan Alumni Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor (2018-2021), para pengurus segera melakukan program kerjanya.

Ketua Umum HA-E IPB Bambang Supriyanto mengatakan, organisasinya ini telah merancang berbagai kegiatan nyata untuk menggerakkan kegiatan membantu Pemerintah dalam hal pelestarian lingkungan, khususnya di sektor kehutanan.

“Kami mendorong setiap bidang dalam organisasi untuk bisa independen, berinivasi dan berkreasi dalam menyusun program kerjanya agar bisa dirasakan oleh masyarakat dan Pemerintah,” ucap Bambang yang juga menjabat sebagai Dirjen Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (PSKL-KLHK).

“Potenwi dalam keilmuannya, diharapkan dapat menghasilkan kajian dan inovasi yang dibutuhkan oleh masyarakat dan Pemerintah baik di bidang kehutanan dan non kehutanan,” sambung Bambang (ma).

Foto: abri

Club Motor Sepakbor (Scooteris Perbatasan Bogor)

Rumpin (d'MonitorBogor) - Sepakbor (Scootris Perbatasan Bogor) sebuah komunitas atau club motor yang khususnya pengguna motor Vespa, yang terdiri dari aliran orisinil hingga aliran modif.

Spakbor diketuai oleh Muhamad Sayrul alias Jablay dari Kecamatan Rumpin, yang aktif mengarahkan teman-temannya pada kegiatan-kegiatan yang positif. Dirinyapun pandai memodifikasi Vespa, sehingga komunitas ini sangat dinamis dari hari ke hari.

Dalam waktu senggang mereka sering mengadakan touring ke berbagai tujuan, untuk melepaskan kepenatan. Seperti orang bilang ada Vespa ada Reggae, itulah lagu-lagu kesehariannya yang mereka dengarkan. Tapi kini ada tren baru di dunia anak-anak Vespa, selain lagu-lagu Reggae, mereka kini juga menggandrungi lagu-lagu Indie, karena menurut mereka Band-band Indie itu, juga bebas seperti mereka.

Tidak percaya mereka penggemar Reggae, ini ada touring mereka yang direkam dalam sebuah video dengan latar musik Reggae,....... Vespa memang Reggae, .... eh juga Indie.... (Agus Pranoto & Sapto Satrio Mulyo)



Kembali ke Kearifan Lokal


Sebuah pola kehidupan peninggalan Leluhur kita yang banyak dilupakan. Sejatinya, Kearifan Lokal tidak bertolak belakang dengan Modernisasi, tetapi justru sebagai rel atau pijakan kemana arah Bangsa ini akan berlabuh dengan Sehat


Kabupaten Bogor yang ber-Kearifan Lokal, pasti lebih maju, Sejahtera Aman Tentram

Artikel Minggu ini

Artikel Populer