Langkah ke 8 Sapto Satrio Mulyo Teras Kabupaten Bogor
Pengunjung Kabupaten Bogor, hingga hari ini :

Kang Udet dan Kang Erwin Terus Berjuang untuk Kemenagan Caleg Nasdem

Dari kiri - kanan : Kang Udet dan Kang Erwin bersama Keluarga Pak Ibrahim
Ciampea (KabupatenBogor) - Kang Udet dan Kang Erwin sebagai penggiat Paku NasDem wilayah Kecamatan Ciampea, mempunyai tanggung jawab untuk memenangkan Caleg-caleg dari Paku NasDem (Paguyuban Konstituen NasDem).

Adapun caleg-caleg yang diusung di wilayah Ciampea, sementara ini adalah Agus Prantono Caleg DPRD Provinsi dan Sapto Satrio Mulyo Caleg DPR RI. 

Mereka berdua selalu blusukan ke anggota, dan calon anggota Paku NasDem untuk mengingatkan bahwa Caleg yang mereka pilih adalah Dulur Paku NasDem.

"Kita berdua duet terus untuk mengingatkan anggota-anggota, bahwa yang dipilih hanya Dulur Paku Nasdem, jangan yang lain". jelas Kang Erwin kepada awak media

"Jadi jika mereka, atau anak mereka akan menjadi Caleg di kemudian hari, maka mereka pun mendapat perlakuan yang sama, alias tidak perlu kampanye, karena cukup mengandalkan anggota saja. Karena hingga kini, anggota yang di Kecamatan Ciampea saja, sudah memiliki jumlah yang cukup signifikan untuk memenangkan Caleg DPRD Kabupaten. Begitu pula anggota di Kecamatan-kecamatan di Kabupaten Bogor lainnya" pungkas Kang Udet di sela-sela slahturahmi dengan warga desa setempat.

Ayo daftarkan sanak keluarga Bapak Ibu sekalian di Paku NasDem agar kelak dikemudian hari mendapat manfaatnya. Paku NasDem didirikan selain untuk Pendidikan Politik, juga untuk meningkatkan UMKM di setiap Desa. Hingga kini Paku NasDem sudah memiliki puluhan Desa yang bergabung, dalam rangka meminta Dukungan Pemasaran dari Paku NasDem. (EW)


Para Pejuang Lingkungan dari Kecamatan Kemang Kabupaten Bogor

Dari kiri-kanan : Supardi, Sesepuh Desa, Siswanto, Agus Pranoto, H. Suria, dan Sapto
Klapanunggal (KabupatenBogor) - Kang Suria,kang Siswanto, dan kang Supardi adalah tiga serangkai Pejuang Lingkungan, tepatnya memperjuangkan lingkungan yang Sehat, dengan mengelola Sampah yang selama ini teronggok di setiap pojok Desa. 

Dari kegiatan yang mereka lakukan di desa Bojong Kidul ini, tidaklah sia-sia, ternyata terendus oleh Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, sehingga mereka pun tidak tanggung-tanggung, langsung mendapat penghargaan sebagai"Kampung Ramah Lingkungan" dari KLHK.

Ta,mpak kang Siswanto sedang memberikan pengarahan
Berangkat dari kepedulian mereka bertiga, yang memiliki kesadaran Kearifan Lokal, mereka mulai dengan merogo kocek masing-masing hingga mulai terwujudnya manajemen penanganan Sampah yang baik, sehat dan memiliki nilai ekonomis.

Mesin Ciptaan kang Suria

Kang Suria yang kebetulan memiliki bengkel, tidak segan-segan merogoh koceknya dalam-dalam hingga akhirnya dapat menciptakan mesin Pencacah Sampah yang cukup efektif dan efisien untuk digunakannya. 

Ternyata niat baik Pejuang Lingkungan tersebut membuahkan hasil yang lebih banyak dari pridiksi mereka, bahwa pengolahan sampah ini, tidak saja menciptakan lapangan pekerjaan bagi Pria atau Bapak-bapak saja, tetapi juga bagi para Ibu-ibu desa yang bertugas memilah-milah antara sampah organik dan sampah non-organik.

Salah satu "Lapangan Kerja" yang diciptakan oleh para "Pejuang Lingkungan"
Selain itu, dari hasil akhir pengolahan sampah tersebut dapat dijadikan pupuk organik yang sangat bermanfaat bagi petani hortikultura di sekitar desa. Sehingga meningkatkan hasil panen para petani sekitar. (SSM & AP)




Warga Desa Kecamatan Ciampea Tetap Menjaga Nilai-nilai Kearifan Lokal

Ibu Yayah berjilbab Biru
Klapanunggal (KabupatenBogor) - Saat kang Sapto, kang Agus, dan kang Siswanto menyambangi desa di Kecamatan Kemang, Kab. Bogor, tampak masih asri, meskipun kurang lebih 1 km dari desa tersebut sudah sangat perkotaan.

Desa yang masih kental menjaga nilai-nilai Kearifan Lokalnya ini, dapat terlihat dari struktur pemukiman dan interaksi sosial diantara mereka. "Betah rasanya kita berlama-lama dan bercengkrama dengan masyarakat setempat." imbuh Sapto dan Agus

"Mereka tahu kalau kang Sapto adalah caleg DPR RI, dan kang Agus adalah caleg DPRD Provinsi, tapi mereka sama sekali tidak transaksional seperti beberapa desa yang sudah kami kunjungi. Bahkan mereka malah menyuguhkan kami kopi dan makanan ringan." jelas para Caleg tersebut

Ibu Yayah sebagai tuan rumah yang kebetulan dituakan di lingkungan itu, membuka pembicaraan, dan memberikan wejangan pada para Caleg, bahwa semoga menjadi wakil rakyat yang amanah, jangan pas sudah jadi, melupakan kami yang memilih.

Ngeriung bersama kang Udet ketiga dari kiri.
Menurut Sapto, mereka pantas menasehati kami, dan memang seharusnya begitu adanya, karena kami akan menjadi wakil mereka kelak, dan yang paling penting, kami datang sebagai caleg, diterima juga sebagai layaknya tamu, bukan Robin Hood yang datang membagi-bagi uang hasil jarahan.

"Mereka memanusiakan kami layaknya tamu, bukan sebagai Robin Hood yang akan bagi-bagi uang hasil jarahnannya." pungkas Sapto

Agus pun menambahkan pengalamannya, "saat saya datang ke sebuah desa, belum duduk pun saya sudah dihadang dengan pertanyaan-pertanyaan yang bersifat transaksional. Desa ini memang masih menjunjung nilai-nilai Kearifan Lokal, makanya kami dimanusiakan di sini." jelas Agus begitu panggilan akrabnya.

Nah kalau sudah begini, kami pun sebagai caleg menjadi lebih semangat untuk mengabdikan diri kepada warga Kabupaten Bogor, seyogyanya masih banyak yang memiliki dan memegang teguh nilai-niai Kearifan Lokal.

Sebagai masyarakat mereka memiliki empati terhadap lingkungan sekitar, hal ini terlihat masih adanya kehidupan alam sekitar yang asri, ditambah adanya peternakan kambing keluarga dengan pola titip pelihara, dan bagi haril.

Sapto Satrio Mulyo (Caleg DPR RI No. 8) dan Agus Pranoto (Caleg DPRD Provinsi dari Partai NasDem No. 4), tampak sangat terkagum-kagum melihat Desa yang menjaga nilai-nilai Kearifan Lokal tersebut. 

Kang Siswanto yang mengusulkan pada kedua Caleg tersebut untuk berkunjung ke Desa tersebut,
selain mengenal persis situasi dan kondisi di Desa tersebut, ternyata kang Siswanto adalah teman baik kang Udet, anak dari tuan rumah yang menerima kunjungan kedua caleg tersebut.  (SSM & AP)

Festival Rakyat Bogor Ber 1

Klapanunggal (KabupatenBogor) - Festival yang akan diselenggarakan pada Sabtu tanggal 16 Maret 2019, bertempat di Basket Hall - GOR Padjajaran Bogor, dibuka mulai jam 07.00

Bertema dan bertujuan untuk Menguatkan Nilai Kebangsaan. Dengan diawali "Press Conference" 

Selanjutnya akan diikuti dengan acara" antara lain:
- Ikrar Mahasiswa dan Kaum Milenial Bogor Raya
- Ikrar Santri Bogor Raya
- Ikrar Alumni SMA SABOGOR KAHIJI
- Bogor Marching Band 'Tegar Beriman'
- Pagelaran Musik (modern, tradisional)

Channel Socmed
#kami1PBogorayabersatu

Contact Person:
Indriani : 0815 9718 501
Hotniar : 0812 9617 275
Rini P : 0821 1008 8101
Chandra : 0813 1106 8741

Kami segenap staff dan anggota Teras Kabupaten Bogor dan #Bogor, mendukung terselenggaranya acara tersebut (Sapto Satrio Mulyo & Agus Pranoto)



Jangan Gunakan "Politik Botol"

Agus Pranoto
Bogor (KabupatenBogor- Pemilu serentak tinggal menghitung hari. Hiruk pikuk pernyataan elit politik, semakin panas dan liar yang berimbas pada kegaduhan di ruang publik. Atas nama "kebebasan menyatakan pendapat", dengan mudah semua orang, berbicara. Sekalipun tanpa data dan fakta.

Elit politik, sejatinya orang yang terdidik. Mereka berpolitik, tidak lain bertujuan untuk meraih kekuasaan. Esensinya, kekuasaan dipergunakan sebagai alat, antara lain untuk mewujudkan kesejahteraan dan mencerdaskan masyarakat.

Apabila "esensi kekuasaan" ini yang menjadi landasan para elit politik, maka dalam hati dan pikiriannya, hanya tertanam  "kekuasaan hanya alat untuk mengabdi".

Implikasinya, para elit politik, akan menerapkan "politik yang berkeadaban" bukan "politik botol"

Politik yang berkeadaban, adalah perilaku dalam berpolitik yang mengedepankan pada gagasan untuk Indonesia lebih baik. Perilaku elit politik berlandaskan pada nilai-nilai agama dan budaya bangsa.

Mereka akan menerapkan "politik tanpa mahar", "politik tanpa uang", "pernyataan yang berbasis data dan fakta, bukan hoax", dan "tidak menjadikan isu sara sebagai alat untuk memperoleh dukungan masyarakat"

Politik Botol, adalah perilaku dalam berpolitik yang menerapkan "segala cara" untuk meraih kekuasaan. Kekuasaan dijadikan "alat untuk berkuasa". Bukan dijadikan alat untuk Indonesia lebih baik.

Para elit politik model ini, seringkali menerapkan budaya "politik mahar", "politik uang", "pernyataan yang kontroversial, hoax, dan segala hal di politisasi". Pernyataannya mengaduk-aduk emosi publik. Akibatnya, diruang publik terjadi "kegaduhan" yang berpotensi memecah belah anak bangsa.

Pernyataan yang dilontarkan diruang publik, adalah pernyataan yang "bodoh dan tolol (botol). Namun, dikemas dengan narasi yang berisi "pembenaran". Mereka, bermain dengan "kata-kata" dan menyampingkan "kata hati". Perilaku "politik botol" ini, jelas sangat tidak mendidik.

Untuk menjadikan Indonesia lebih baik, hendaknya para elit politik menggunakan "Politik Berkeadaban". Jangan gunakan "Politik Botol". (EW)

Pemerhati Sosial Politik

Kembali ke Kearifan Lokal


Sebuah pola kehidupan peninggalan Leluhur kita yang banyak dilupakan. Sejatinya, Kearifan Lokal tidak bertolak belakang dengan Modernisasi, tetapi justru sebagai rel atau pijakan kemana arah Bangsa ini akan berlabuh dengan Sehat


Kabupaten Bogor yang ber-Kearifan Lokal, pasti lebih maju, Sejahtera Aman Tentram

Artikel Minggu ini

Artikel Populer